The Global News and Trending Topics Every day

Subscribe

Search Results

IKLAN 336x280

Peta Mudik 2011

August 18, 2011 By: whjobs Category: Trending Topic

Hari Raya Eid el Fitr (Idul Fitri 1432 H), tinggal sebentar lagi. Bagi anda kaum muslimin-muslimat, tentunya hal yang sangat ditunggu-tunggu adalah moment mudik lebaran. Karena di moment tersebut anda bisa berkumpul dengan sanak -saudara dalam suasana suci dan saling memaafkan.
Nah bagi anda semua yang hendak melakukan mudik lebaran, supaya acara anda lebih nyaman berikut ini kami sajikan peta mudik 2011 yang bisa anda :

download peta mudik 2011 disini

Selamat menjalani mudik bersama keluarga, selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Mohon Maaf Lahir Batin

How To Train Your Dragon

July 26, 2011 By: whjobs Category: Trending Topic

*How To Train Your Dragon
*oleh Made Teddy Artiana, S. Kom

Ada sebuah film animasi tiga dimensi (3D) yang sangat menghibur, namun sarat
akan pelajaran moral yang luar biasa, yang sepertinya wajib kita tonton.
Sebuah film yang dulu kabarnya pernah menduduki puncak tertinggi urutan box
office, dengan penghasilan tertinggi USA.(Sequel keduanya segera akan hadir
)

Film itu adalah “How To Train Your Dragon”.

Film yang mengambil setting kehidupan bangsa Viking di jaman dahulu.
Diceritakan pada waktu itu musuh bebuyutan orang Viking adalah Dragon/naga.
Tetapi Naga orang Viking berbeda dengan persepsi Naga di kepala orang Asia,
agak berbeda. Yang satu binatang melata berwujud ular raksasa, namun
berkaki, yang lain punya sayap dan bisa terbang. Yang satu menelan mangsa,
yang lain menyemburkan api. Tetapi keduanya punya wajah dan sisik mirip.

Saking musuh bebuyutannya kedua golongan ini, hingga dari jaman ke jaman
mereka saling bunuh. Bahkan anak-anak orang Viking telah dilatih secara
khusus untuk membunuh para naga. Pelatihan ini demikian serius hingga
ditahapan puncak, mereka laksana gladiator romawi, diharuskan membunuh naga
dalam sebuah gelanggang pertempuran yang ditonton seluruh suku bangsa
mereka.

Ada beberapa jenis naga. Dari yang berkepala dua, kecil mungil
berwarna-warni, bertubuh panjang merah, pendek gempal, hingga Night Furry,
naga siluman yang tidak pernah tampak wujudnya (karena tak seorangpun pernah
melihatnya) namun sangat ditakuti, karena “tembakan maut” api dari mulutnya
laksana peluru kendali yang memiliki ketepatan yang luarbiasa.

Oleh suku bangsa Viking hampir semua naga memperoleh predikat : berbahaya
dan bunuh ditempat, hanya Nigth Furry yang berpredikat berbeda : jika ia
muncul, bersembunyilah dan berharaplah agar tidak diketahui alias tidak
mungkin untuk dikalahkan dan sia-sia untuk dilawan.

Tersebutlah seorang remaja Viking bernama Hiccup. Jika bayangan kita
terhadap orang Viking adalah kekar, seram, kuat, berbulu dan berambut
panjang. Hiccup persis kebalikannya. Licin, klimis, letoi, berambut pendek
lurus dan kurus ceking. Ia adalah kijang yang tersasar digerombolan singa
Afrika. Ikan mujair diantara kumpulan para piranha.

Jika orang Viking selalu mengandalkan kekuatan mereka, Hiccup yang kebetulan
tidak memilikinya, lebih mengandalkan sesuatu didalam kepalanya. Namun
demikian karena standar yang mendominasi semua orang sebangsanya adalah
“kekuatan” dan “kebengisan” dan bukannya “otak” dan “hati”, maka kelebihan
Hiccup tetap saja tidak mampu memberikan sumbangsih apapun bagi eksistensi
dirinya. Sehingga Hiccup tetap merupakan noda yang cukup memalukan tidak
hanya bagi seluruh kaumnya, namun terutama juga untuk sang ayah yang
kebetulan kepala suku bangsa Viking yang sangat dihormati. Karena jangankan
untuk membunuh naga -yang notabene adalah kebanggaan orang Viking-
bertindak-tanduk sebagai seorang Viking pun, Hiccup sepertinya tidak akan
pernah sanggup. Inilah yang membuat perasaan inferior tampak membayangi
kehidupan Hiccup.

Dalam sebuah penyerangan segerombolan naga kepemukiman bangsa Viking,
seperti yang lain, Hiccup bermaksud ikut berperang mengusir naga-naga itu.
Tetapi ia terlalu lemah dan terlalu sial untuk berhasil. Namun tanpa
sepengetahuan siapapun, Hiccup telah menciptakan sebuah alat untuk menyerang
para naga. Dan alat itu ia gunakan, persis ketika naga “siluman” yang paling
ditakuti -Nigth Furry- datang menyerang. Sebenarnya ia berhasil menembakkan
alat itu kepada Nigth Furry, tetapi karena memang selalu bernasib sial,
Hiccup kembali menimbulkan kekacauan dan kerugian besar dalam perang
tersebut. Alhasil, ia kembali jadi bulan-bulanan kemarahan ayah dan
bangsanya, walaupun ia berusaha mengatakan pada mereka bahwa senjatanya
berhasil mengenai Nigth Furry, dan naga yang paling ditakuti sekaligus tak
pernah terlihat wujudnya itu terjatuh disebuah bukit tak jauh dari
pemukiman.

Pengakuan yang sangat terlalu mustahil, terlebih bagi seorang Hiccup.

Hingga akhirnya Hiccup berusaha membuktikan penglihatannya sendiri. Dan
betapa terkejutnya ia ketika mengetahui senjatanya itu tidak hanya berhasil
mengenai naga siluman itu, tetapi juga melukainya hingga naga yang paling
ditakuti itu terluka dan tidak berdaya. Namun demikian Hiccup memutuskan
tidak membunuh hewan yang sudah tidak berdaya itu. Ia terlalu berperasaan
untuk melakukannya.

Lewat proses pemahaman yang demikian unik, terjalinlah persahabatan antara
Hiccup dan Nigth Furry, yang kemudian ia namai dengan Toothless. Tidak hanya
itu, Hiccup berhasil memahami perilaku naga itu, dan menjadikan Nigth Furry
hewan tunggangannya. Sesuatu yang luar biasa dan tidak akan pernah
terpikirkan oleh seorang Viking, yang segera akan lari tunggang langgang
jika mendengar teriakan Nigth Furry yang mendirikan bulu roma.

Namun justru disinilah konflik itu mulai terjadi, ketika akhirnya
persahabatan yang diharamkan ini diketahui oleh ayah dan bangsanya, sehingga
mereka sangat murka terhadap Hiccup. Seperti biasa penjelasan Hiccup tentang
naga-naga yang sebenarnya sama seperti perilaku bangsa Viking, dan manusia
umumnya, yang membunuh jika terdesak dan merasa terancam, tidak pernah
mendapat kesempatan untuk masuk kepikiran mereka. Mindset lama tentang
“dibunuh atau terbunuh”, terlalu menguasai pikiran mereka, sehingga
pencerahan yang dibawa Hiccup dianggap sebuah dosa dan kesalahan fatal.

Singkat cerita, pemahaman baru ini justru menjadi sebuah senjata yang luar
biasa bagi Hiccup yang akhirnya membawa ia menjadi seorang pahlawan yang
sangat dikagumi oleh bangsanya, dengan bekerja sama dengan Nigth Furry untuk
membunuh seekor naga raksasa yang jahat, yang menjadi gembong yang memaksa
naga-naga lain yang jauh lebih kecil untuk mencuri, merampok hewan bangsa
Viking.

Akhirnya para naga dan bangsa Viking tinggal berdiam dengan penuh harmoni di
pemukiman yang sama.

Sebuah pelajaran moral yang aku anggap paling mengesankan adalah betapapun
lemah, kurang, berbedanya diri kita dengan standard baku yang berlaku
dimasyarakat, namun keunikan yang kita miliki tetap dapat dijadikan senjata
ampuh untuk meraih kesuksesan hidup. Dan kesuksesan itu bisa jadi berbeda
dengan yang ayah kita, keluarga, boss dikantor, para motivator, orang
kebanyakan gariskan sebagai sebuah kelaziman.

Dulu, hanya Copernicus yang mengatakan dunia ini bulat.

Ia jelas-jelas berbeda dengan seluruh manusia
yang ada saat itu. Ia berpendapat, sedangkan yang lain tidak berpendapat.
Mereka hanya menelan bulat-bulat apa yang sudah terlanjur diturunkan dari
moyang mereka. Dan kini jika ada orang yang mengatakan bahwa bumi ini datar,
pastilah semua orang menganggap orang tadi sudah kehilangan akal warasnya,
persis ketika dulu Copernicus dianggap tidak waras oleh orang sejamannya.
Jadi jelas, bahwa kebenaran tidak selalu identik dengan gerombolan.

Para penyendiri, atau mereka yang dibuat sendiri, karena dianggap aneh oleh
sekitar -walaupun tidak selalu mutlak benar- seringkali membawa pencerahan
luar biasa bagi pola pikir yang sudah jenuh. Namun demikian memang tidak
dapat disangkal bahwa kita adalah mahluk yang cenderung mengikuti arus masa
kebanyakan.

Tapi tunggu dulu, sebelum terlalu jauh ada baiknya jika istilah “kelemahan”
atau “perbedaan” dalam hal ini, tentu bukan merupakan sebuah perilaku minus
yang memang harus diubah.

*Sifat kurangajar dan tidak hormat.
Ketidakjujuran.
Kebiasaan merendahkan.
Berkata kasar dan suka menyakiti orang lain.
Malah belajar.
Penunda.
dll*

yang seringkali mewakili ungkapan “*Suka atau tidak, sifat ku memang begini”
* aku rasa diluar kategori pembahasan kita. Itu bukan kelemahan-kelemahan
yang dimaksud. Itu sesuatu yang harusnya –jika kita memiliki harga diri yang
cukup kuat- mendapat prioritas untuk diperbaiki segera.

*Lahir disebuah keluarga miskin.
Tidak punya biaya untuk bersekolah.
Punya keadaan fisik yang serba kurang
(kurang tinggi, kurang cantik, kurang tampan).
Cacat.
Yatim piatu.
Korban brokenhome.
Dianggap bodoh/kurang pandai.
Gagap.
dll.*

Adalah sederet keadaan tentunya masuk dalam kategori.

Seorang teman yang dari kecil sangat hobby akan seni ketrampilan tangan
baru-baru ini curhat padaku. Ia merasa keluarga –biasanya hambatan dan
hinaan itu datang dari orang-orang terdekat- menganggap hobby dan
ketrampilannya ini tidak memiliki masa depan, sehingga keluarga mengharuskan
ia mencari pekerjaan yang lebih mapan, yang sebenarnya tidak ia sukai.
Padahal ada sebuah pengalaman yang sampai kini begitu berkesan dihatinya
adalah ketika hasil karyanya dibeli mahal oleh seseorang karena dianggap
sangat unik. Ini terjadi ketika ia duduk dikelas enam SD. Tapi apa lacur,
orang tuanya menganggap itu semua sebagai sebuah kebetulan belaka.

Lain lagi cerita seorang kenalan, yang menjadi korban orang tua yang
brokenhome. Ayah ibu bercerai. Ayah masuk penjara, ibu kawin lagi. Kini
tinggalah ia sendiri berjuang bersama kedua adiknya yang masih kecil,
bertahan hidup dengan beban psikologi yang begitu berat.

Belum lagi seorang kenalan lain –kali ini wanita- yang karena merasa diri
kurang menarik, memutuskan untuk tidak pernah memulai hubungan dengan
seorang pria, hingga usia nyaris mendekati empat puluh tahun. “Dari pada
terluka, mending tidak”, begitu ungkapan favorite nya.

Seorang karyawan yang di-PHK justru dalam keadaan genting, istrinya sedang
hamil tua, anak ke-3 !!!

Seorang istri dengan dua orang anak yang kemudian ditinggal mati oleh sang
suami.

Dan lain-lain sebagainya. Mungkin kita tidak sadar bahwa cerita-cerita ini
begitu sering hilir mudik didepan hidung kita.

Kontras dengan itu semua, Anthony Robin dalam buku fenomenalnya : The
Awakening of Giant Within bercerita tentang sebuah kekuatan luar biasa yang
ada pada diri setiap insan. Kekuatan yang seringkali tertidur dan menunggu
untuk disadari eksistensinya, untuk kemudian mengambil alih peran hidup yang
sementara ini dilakoni dengan tanpa daya.

Uniknya, seringkali kita membayangkan kekuatan itu sebagai sesuatu yang
dashyat seperti : naga, harimau atau raksasa. Tentu saja tidak sepenuhnya
keliru, karena memang daya dan kekuasaannya memang sehebat mahluk-mahluk
tersebut.

Namun sebagaimana hidup yang selalu bermain petak umpet dalam cara-cara
siluman (berkah dalam kemalangan, kegagalan mendahului kesuksesan, malaikat
dalam rupa tak sewajarnya) kekuatan-kekuatan tadi lebih sering mengambil
rupa justru dalam wujud yang sangat tidak kita sukai alias yang tidak kita
duga. Kelemahan-kelemahan yang memalukan, yang membuat minder dan menekan
urat syaraf itulah wujud mereka mula-mula.

Kini tergantung kita, apakah kita punya cukup keberanian untuk berhadapan
dengan kelemahan-kelemahan itu –yang sebenarnya adalah naga, harimau atau
raksasa yang sedang malih rupa. Ataukah kita karena putus asa, minder,
merasa sial atau disia-siakan oleh hidup memilih balik kanan bubar jalan,
atau mendekam dipojok ruangan hingga akhir hidup kita sambil terus bergumam
tentang betapa menyedihkannya diriku ini.

Bahkan seekor naga (baca : kekuatan naga) pun perlu dilatih untuk
memunculkan kekuatan mereka yang sebenarnya. Bagaimana cara melatihnya ? How
to train your dragon ? Simple, dengan mengakui keberadaan mereka, kemudian
mensyukuri semua kelemahan, keterbatasan kekurangan dan ketidakstandaran
kita, lalu berhadapan face to face dengan hidup ini bersenjatakan
kelemahan-kelemahan itu.

Maka segera saja kita akan temukan betapa sesuatu yang kita anggap kelemahan
adalah senjata pamungkas yang diberikan Sang Pencipta kepada kita. Dalam
arti kata, kita sudah dipersiapkan sebaik mungkin –jauh sebelum kita lahir-
untuk menjadi lebih dari sekedar pemenang. DIA adalah pihak yang paling tahu
bagaimana cara membentuk kita sehebat yang prototype yang sebenarnya IA
rancang. (*)


*What a wonderfull world ! What an exciting journey !!
*
*
Made Teddy Artiana, S. Kom
*
fotografer, penulis & event organizer
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com

IKLAN 336x280