The Global News and Trending Topics Every day

Subscribe

Search Results

IKLAN 336x280

KA Super cepat, Jkt-Bandung 45 menit, 200rb, mau?

March 21, 2012 By: gmunews Category: Uncategorized


Pemerintah menyatakan pembangunan kereta cepat tujuan Jakarta-Bandung diperlukan. Transportasi kereta api di pulau Jawa saat ini sudah sangat mendesak.

Demikian disampaikan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (21/3/2012).

“Kalau super cepat Jakarta-Bandung baru duduk nanti sudah nyampe. Yang lagi saya minta diseriusin itu Jakarta-Surabaya dengan beberapa setop, itu akan sangat menolong,” kata Hatta.

Untuk teknologi kereta cepat ini, Hatta mengatakan bisa diambil dari mana saja. Apalagi saat ini banyak negara yang sudah mengembangkan alat transportasi ini.

“Teknologi mana saja boleh, sekarang sudah berkembang Jepang, Korea, Jerman, Prancis. Itu semua jago-jago di kereta api,” kata Hatta.

Hatta mengatakan, pemerintah meminta jalur ganda kereta di sepanjang pulau Jawa segera dibangun khususnya untuk kereta barang.
“Kalau untuk kereta barang, double track selesai, maka kereta barang yang akan diutamakan. Nanti akhir 2013 kita harapkan selesai double track sepanjang Jawa,” jelas Hatta.

Seperti diketahui, kereta cepat Jakarta-Bandung tengah digagas pemerintah. Melalui skema kerja sama public private partnership (PPP), pembangunan proyek ini menghabiskan dana Rp 56,108 triliun atau setara US$ 5,95 miliar.

Perkiraan biaya ini didapat dari hasil studi kelayakan awal yang dilakukan MLIT bersama Japan Railway Techbical Service (JARTS) dan Yachiyo Engineering Co. Ltd). Kereta ini bahkan menjanjikan waktu tempo 45 menit-50 menit karena memiliki kecepatan 210 km per jam.

Swasta dan Pemerintah Jepang mengaku berminat jadi investor dalam pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung senilai Rp 56 triliun.
“Swasta dan pemerintah Jepang minat, baik aspek teknis maupun finansial. Dalam pengembangan Shinkasen (kereta cepat) kami punya pengalaman 47 tahun. Untuk industri kereta api 145 tahun,” tegas Deputy Director General Railway Biro The Ministry of Land, Infrastructur, Transport and Tourism of Japan (MLIT) , Hirosi Tabata.

Konsep kereta cepat juga dianggap ideal dan menjadi solusi transportasi umum di Indonesia. Namun, saat partisipasi swasta sangat dominan tarif kereta cepat pun menjadi tinggi Rp 200 ribu. Apakah layak?http://finance.detik.com

Jacob Oetama dan Kompas Grup Siap Kawal Dahlan Iskan

November 03, 2011 By: whjobs Category: Uncategorized

Catatan Sholihin Hidayat Jacob Oetama dan Kompas Grup Siap Kawal Dahlan Iskan GAYA bicara dan style kepemimpinan Dahlan Iskan, sama sekali tak berubah. Hampir sama saat dia menjadi CEO Jawa Pos Grup atau Dirut PLN. Padahal, kini dia menduduki jabatan yang sangat strategis di negeri ini, yakni Meneg BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Kemeneg BUMN adalah gudangnya duit dan aset. Karena itu, seringkali jadi rebutan dan sapi perah. Memimpin seperti Dahlan memang sesuatu yang baru di jajaran kabinet. Terbuka dengan siapa saja, termasuk soal kiat-kiat dan langkah-langkah strategis yang akan dilakukan di BUMN. Apalagi, Dahlan juga menyatakan tidak mau terima gaji sebagai menteri, tidak menempati rumah dinas, tidak menggunakan mobil dinas, dan fasilitas-fasilitas lain. Yang luar biasa, menurut saya, Dahlan tidak mau mengenakan pakaian dinas dan pin menteri. Kenapa luar biasa. Umumnya, kita ini amat bangga dengan pakaian kebesaran. Apa itu pakaian safari, jas, batik, atau bahkan pakaian sebagai identitas seorang agamawan, semisal kopyah puytih dan serban. Pakaian dinas atau pakaian kebesaran melambangkan status seseorang. Apalagi, kalau itu dilengkapi dengan pin Garuda atau bintang-bintang lainnya di pundak dan bahu. Bagi Dahlan, formalitas dan pakaian adalah semu. Pakaian bisa terdiri dari apa saja dan bisa dikenakan oleh siapa saja. Bagi dia, kehebatan seseorang tidak dilihat dari baju. Baju atau pakaian hanya sebuah alat atau upaya untuk menutupi badan. Lantas, kenapa harus diistimewakan atau diagungkan? Dahlan memilih biasa-biasa saja, meski dia orang yang luar biasa. Itu pilihan dia, yang tidak semua orang setuju atau bisa enjoy. Mengenakan hem panjang polos dan sepatu kets. Itu kebiasaan Dahlan yang juga tak berubah. Gaya bicaranya ceplas-ceplos, terbuka, dan mau diwancarai wartawan di mana saja. Bisa di ruang kerja, lift kantor Kemeneg BUMN, bahkan di jalan saat dia berolahraga atau berangkat kerja dengan jalan kaki. Kemarin pagi, sekitar pukul 10.00, Dahlan menelepon saya setelah saya SMS. Dia minta saya untuk meluncur ke kantor Kompas-Gramedia Jl Palmerah, sekaligus menemani Dahlan untuk menemui Jacob Oetama, CEO Kompas-Gramedia Grup. Saya pun bergegas menuju kantor Kompas I. Ternyata Jacob berada di kantor Kompas tahap II. Segera saja saya berjalan menuju kantor II yang letaknya di belakang Kompas tahap I. Baru beberapa langkah berjalan, Dahlan menelepon, ‘’Anda di mana Hin,’’ tanya sang menteri. Saya bilang sudah sampai di kantor Kompas. Dia bilang juga sudah sampai. Ternyata Dahlan dan saya sama-sama keliru. Nah, di sinilah keaslian Dahlan kian tampak. Dia jalan dari Kompas I ke Kompas II, yang jaraknya sekitar 600 meter. Berarti dia berada di belakang saya. Benar, Dahlan berjalan kaki diiringi Budi, wartawan Indo Pos Jakarta, yang dijadikan ajudan. Saya melihat penampilan Dahlan yang sangat sederhana, untuk ukuran seorang menteri. Apalagi, itu menteri BUMN, yang omzet per tahunnya mencapai Rp 2000 triliun. Jumlah itu di atas APBN, yang ’’hanya’’ Rp 1500 triliun. Tetap baju polos dipadu celana gelap dan sepatu kets. Tangannya dibiarkan kosong tanpa mengenakan arloji. Tentu saja pertamuan dua bos grup media terbesar di Indonesia itu sangat menarik dan gayeng. Saya pun diperkenalkan oleh Dahlan kepada Jacob. ’’Ini Sholihin Hidayat, mantan pemimpin redaksi Jawa Pos, pengganti saya,’’ jelas Dahlan. Jacob mengulurkan tangan menjabat hangat. Pertemuan di lantai 6 itu juga diikuti jajaran elite Kompas dan para redaktur. Tanpa basa-basi, Dahlan langsung menyatakan bahwa dirinya sengaja datang menemui Jacob, yang dianggap sebagai sesepuh wartawan Indonesia. ’’Sudah seharusnya saya datang ke Pak Jacob, setelah sebelumnya saya menemui Goenawan Mohamad (pendiri majalah TEMPO dan mantan Pemred TEMPO) dan Fikri Jufri (juga mantan Pemred TEMPO,’’ ujarnya. Jacob dengan antusias memuji Dahlan. ’’Luas biasa Pak Dahlan. Saya bangga dia jadi menteri BUMN. Gaya wartawan Pak Dahlan juga tetap dipertahankan,’’ ujar Jacob. Ketika Jacob memanggil Dahlan dengan Pak Menteri, Dahlan menyahut, ’’Saya Dahlan, pak. Nama saya memang Dahlan. Jabatan menteri BUMN ini kan hanya tiga tahun, sedangkan nama Dahlan akan saya bawa sampai mati. Jadi, tetap panggil saya dengan Dahlan,’’ jawabnya. Pertemuan berlangsung hangat dan diwarnai canda ria. Dua-duanya wartawan senior yang amat terkenal, meski punya gaya dan style berbeda. Jacob menceritakan bahwa tuga Meneg BUMN sangatlah berat. Banyak intervensi dari kalangan mana pun, terutama partai politik. Sebab, BUMN gudangnya duit dan layak dijadikan sapi perah. Karena itu, Jacob dengan tegas menyatakan bahwa dia dan Kompas Grup akan mengawal Dahlan sampai selesai memimpin Kementerian BUMN. ’’Saya siap mengawal Pak Dahlan selama menjalankan tugas sebagai Menteri BUMN. Tugas Pak Dahlan sangat berat. Akan terjadi banyak intervensi dan perebutan jabatan strategis di BUMN. Mudah-mudahan Pak Dahlan kuat dan sukses mengemban amanat,’’ tegas Jacob. Tentu ini amat luar biasa. Dukungan serta semangat Jacob dan Kompas Grup untuk mem-back-up Dahlan akan sangat berarti bagi kesuksesan dalam memimpin BUMN, yang terdiri dari 141 perusahaan berskala besar-kecil. Ada PLN, Bank BRI, Bank Mandiri, Telkom, Garuda, Semen Gresik, Petrokimia, PT DI Bandung, dan puluhan BUMN perkebunan yang rata-rata merugi. Dahlan pun kian optimistis memimpin BUMN dengan adanya pengawalan dari Jacob dan Kompas-Gramedia Grup. Karena itu, Dahlan juga menyatakan akan curhat kepada wartawan jika ada persoalan terkait dengan BUMN atau adanya intervensi dan tekanan. Menurut dia, pers tetap akan menjadi alat social control yang efentif dalam pelaksanaan demokrasi dan penyelenggaraan negara. Karena itu, Dahlan sangat yakin, dengan latar belakang dia sebagai wartawan, tugas-tugas dia sebagai meneteri BUMN akan sukses. Semoga! Selamat bertugas Pak Dahlan! *penulis adalah mantan pimred Jawa Pos, dewan pakar redaksi Lensaindonesia.com http://www.lensaindonesia.com/2011/11/01/jacob-oetama-dan-kompas-grup-siap-kawal-dahlan-iskan.html Dahlan Iskan Layak jadi Capres 2014 LENSAINDONESIA.COM: Dahlan Iskan Pantas kita jagokan bersama menjadi Capres 2014. Pasalnya, Dahlan Iskan tergolong orang yang tak pernah mengambil gaji sebagai Direktur Utama (Dirut) PLN. Alasannya, sumber penghidupannya sudah cukup dari Jawa Pos. Dahlan Iskan membuktikan dirinya mampu melakukan pekerjaan rumit dalam bidang kelistrikan. Kuncinya ialah mengandalkan pengalaman, intuisi, dan feeling. Dialah wartawan pertama yang mampu mengendalikan birokrasi PLN mencapai kemajuan pesat, sehingga mampu memuaskan banyak pelanggan yang sebelumnya banyak diteror gangguan byar-pet atau pemadaman listrik. Masalahnya, banyak orang yang menggantungkan kehidupannya pada energi listrik. Mulai dari kalangan pengusaha, rumah tangga, hingga masyarakat awam sangat terpukul ketika terjadi insiden pemadaman listrik yang berujung pada kerugian para konsumen listrik. Peringatan Hari Listrik Nasional (HLN) ke-66 yang jatuh pada 27 Oktober 2011 ,seharusnya menjadi momentum bagi kebangkitan pembangunan dunia kelistrikan nasional. Semenjak Direktur Utama PT PLN (Persero) dipegang oleh Dahlan Iskan sejak Desember 2009, BUMN terbesar kedua di negeri ini mengalami kemajuan luar biasa. Selama hampir dua tahun PLN dipegang raja koran dari Surabaya, PLN mengalami kemajuan luar biasa. Padahal selama puluhan tahun, nasib PLN benar-benar menjadi bahan hujatan dan kritik akibat mengalami pemadaman (byar-pet) sehingga banyak merugikan pelanggan. Apalagi, banyak daerah yang belum tersentuh aliran listrik. Daftar antre calon pelanggan yang menginginkan sambungan listrik baru menjadi problem berat dalam dunia kelistrikan. Namun di tangan Dahlan Iskan, kini PLN menuai banyak pujian dan prestasi. Program sejuta sambungan dalam sehari menjadi gebrakan baru yang bisa mengatasi permasalahan listrik selama 65 tahun, yang berhasil dipecahkan hanya dalam hitungan satu tahun kepemimpinannya. Padahal ketika ia ditunjuk menjadi Direktur Utama PLN, banyak orang yang meragukan kepemimpinannya. Bahkan ketika dilantik menjadi
Dirut PLN, ratusan pendemo melakukan aksi unjuk rasa menolak pelantikannya menggantikan Fahmi Mochtar. Para pendemo itu menilai Dahlan Iskan tidak berpengalaman dan awam di bidang manajemen kelistrikan. Namun tak disangka, meski latar belakangnya seorang jurnalis tulen, kemampuan Dahlan Iskan dalam memanajemeni PLN mencapai banyak prestasi yang sangat menakjubkan. Ada lima masalah pelik menelikung kenapa PLN mengalami banyak hambatan dalam menyediakan energi listrik. Pertama, terbatasnya kemampuan PLN melayani sambungan baru, sehingga menyebabkan daftar tunggu yang panjang. Kedua, kurang sehatnya keuangan PLN karena regulasi tarif, subsidi, dan marjin pendapatan PLN. Ketiga, tidak seimbangnya pertumbuhan sarana pembangkit transmisi dan distribusi dengan pertumbuhan konsumen dan penjualan listrik. Keempat, PLN terjebak biaya tinggi akibat besarnya energi yang dibangkitkan dengan bahan bakar minyak, yang sebelumnya banyak disubsidi pemerintah. Kelima, terjadinya kekurangan daya listrik dan pemadaman bergilir di banyak kota. Berbagai kendala di atas dijawab Dahlan Iskan dengan solusi cerdik. Sangat menarik membaca detail berbagai gagasan yang diutarakan dalam buku berjudul Indonesia Habis Gelap Terbitlah Terang (Kisah Inspiratif Dahlan Iskan, Gaya Wartawan Mengelola Kelistrikan) karena menyajikan berbagai komentar-komentar orisinal yang mengkritisi mutu dan gaya kepemimpinan Dahlan Iskan. Terdapat 21 tokoh yang menorehkan pendapatnya mengenai gaya kepemimpinan Dahlan Iskan dalam buku eksklusif ini. Mereka ialah Ishadi SK, Sofjan Wanandi, Sabam P Siagian, Don Kardono, Iwan Darusman M, Muhammad Reza, Murtaqi Syamsuddin, Alvin Edison Woisiri, dll. Menurut pendapat Sofjan Wanandi, yang dibutuhkan bangsa ini adalah orang yang bisa memanage, berani melakukan terobosan, dan bertanggung jawab. Dahlah Iskan adalah orang bertipe demikian. Dia tidak punya gelar doktor atau profesor, tapi cepat belajar. Mulai tanggal 20 Oktober 2011 kemarin, Dahlan Iskan resmi diplot menjadi Menteri BUMN, yang membawahi tak kurang 141 perusahaan negara, di mana 18 di antaranya kini tengah terancam kolaps (merugi) sehingga merugikan keuangan negara Rp 1,29 triliun. Apakah Dahlan Iskan akan berhasil menjadi sang arsitektur Kementerian BUMN, sebagaimana ia sukses mempiloti PLN selama hampir 2 tahun yang sudah berlalu? Kita nantikan saja kiprahnya lebih lanjut. Kalau tidak keburu tua, ialah sang kandidat presiden 2014 nanti. Pantas kita jagokan bersama menjadi Capres 2014.dody/LI-07 http://www.lensaindonesia.com/2011/10/27/dahlan-iskan-layak-jadi-capres-2014.html Partai “Jawa Pos Group” V Partai Politik? Catatan: Sholihin Hidayat (mantan premred Jawa Pos, dewan pakar redaksi Lensaindonesia.com) DAHLAN ISKAN. Kini, setelah wartawan ini duduk di kursi kabinet, apa yang ingin diraihnya di track berikutnya? Meski secara eksplisit belum pernah diungkapkan, saya menilai Dahlan –bila kesehatannya terjaga– layak disandingkan siapa pun untuk menjadi RI-2 di Pilpres 2014. Kalau itu kenyataan, tentu kesejarahan bangsa ini akan mencatat, Dahlan adalah wartawan kedua –setelah Adam Malik– yang menduduki kursi RI 2. Kenapa Dahlan? Saya pernah berkali-kali menyampaikan kepadanya, era sekarang ini sulit menemukan tokoh yang punya keberanian melakukan terobosan dan menjungkirbalikkan tradisi lama yang sangat membelenggu bangsa ini. Dahlan memang tidak menjawab. Dia hanya senyum-senyum. ‘’Saya ini bukan orang parpol, Hin. Saya tidak punya historis dan track record di kancah politik,’’ katanya dalam perbincangan, Agustus lalu. Saya spontan menimpali, bahwa ‘’Partai Jawa Pos’’ jauh lebih efektif dan membumi dibanding partai-partai politik yang ada sekarang. Kalau parpol punya pengurus DPW/DPD di tingkat provinsi dan DPC/DPD di setiap kabupaten/kota, maka Jawa Pos juga punya energi yang tidak kalah. Jawa Pos dan grupnya terbit dan beredar setiap hari. Tapi, partai politik hanya akan terbit dan beredar menjelang pemilihan presiden, pemilihan umum lima tahun sekali. Atau, kalau ada pemilihan kepala daerah. Jawa Pos dan anak-anak perusahaannya bisa dengan efektif memberikan suguhan berita-berita menarik, dan mengajak pembacanya apa saja sepanjang waktu. Tak terbatas ruang dan waktu. Jawa Pos terbit tanpa henti, kecuali hari raya dan hari kiamat (begitu guyonan saya dengan teman-teman saat saya masih aktif di Jawa Pos). Bahkan, grup Jawa Pos juga punya stasiun televisi lokal hampir di seluruh kota besar di Indonesia. Itu belum terhitung jumlah tabloid, majalah, dan juga radar-radar yang luar biasa banyaknya. Praktis, kalau untuk sosialisasi dan memopulerkan, sekaligus membangun pencitraan sosok Dahlan Iskan dan Calon RI 1, sedikit pun tak akan mengalami kesulitan. Efektif dan efisien. Mendengar pernyataan saya seperti itu, Dahlan hanya diam. Senyum-senyum. Cuma, saya bilang lagi, kalau dia itu tak punya teman dan sulit berteman dengan siapa saja. Di Jakarta pun, sekarang ini, dia tidak punya komunitas di luar PLN dan Jawa Pos Group. Atau, sekedar teman “cangkruk” dan sharing untuk “membunuh” waktu. Karena itu sejak sekarang, dia perlu meluangkan waktu untuk memperbanyak silaturahim dengan kalangan elit, membangun jaringan, komunitas, dan lebih egaliter. Lebih care. Memperbanyak senyum, dan mau berbagi dengan sesama. Niscaya. Tidak mustahil, akan banyak parpol yang melamar Dahlan untuk dijadikan calon RI-2. Tapi, itu semua tergantung nasib dan garis tangan (takdir) seorang wartawan Dahlan. Allahu a’lam bissawab. LI04 http://www.lensaindonesia.com/2011/10/20/partai-jawa-pos-group-v-partai-politik.html Dua Jam Bersama Pak Dahlan Iskan Setelah jadi Menteri BUMN Oleh Hazairin Sitepu “Ok.” Hanya dua huruf ini yang tertulis di monitor handphone saya. Pesan ini datang dari Dahlan Iskan, menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai balasan atas short message system (SMS) saya. Saya kemarin pagi mengirim SMS kepada Pak Dahlan untuk meminta waktu bertemu Beliau, ingin menyampaikan selamat atas dilantiknya menjadi menteri BUMN. Padahal usai dilantik pada 20 Oktober lalu, waktu saya masih di Eropa, sudah menyampaikan ucapan selamat melalui SMS dan Pak Dahlan sudah membalas dengan menyatakan terima kasih dan permohonan maaf. “Maafkan aku Hazairin, SMS-mu baru saya balas karena ada ribuan SMS yang masuk ke handphone saya,” tulisnya. Tapi rasanya kurang afdhal kalau tidak bertemu sambil menjabat tangannya. Saya lalu ke kantor menteri BUMN di Jl. Merdeka Barat, bekas kantor PT Garuda Indonesia. Naik ke lantai 19 karena ruang kerja menteri di lantai tersebut. Pak Dahlan ternyata sedang bertemu Pak Yacob Oetama dan pimpinan Harian Kompas di Palmerah dan saya harus menunggu. “Maaf, Bapak menunggu di bawah saja. Di lobi. Biar aman di sini,” katapetugas security di lantai 19 kepada saya. “Gak apa-apa Mas, saya aman kok,” kata saya. Tampang saya mungkin mencurigakan, karena selama saya duduk di ruang tunggu petugas ber-handy talky ini tampak sering mondar-mandir dan tiga kali mengintip dari celah dinding kaca. Sekitar 15 menit di ruang tunggu, Pak Dahlan menelepon dan meminta saya menuju ke Kuningan, karena Beliau akan bersilaturahmi dengan seorang tokoh di sebuah tempat di situ. “Nanti kita ketemu di sana aja,” katanya. Saya lalu menuju ke Kuningan. Hazairin, Anda sudah di mana? Belok kanan saja lalu ambil jalur lambat, tunggu saya di depan Wisma Bakri, katanya saat itu. Pak Dahlan menelepon lagi ketika saya sudah di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hampir bersamaan dengan saya menutup telepon, melintas di jalur cepat rombongan pejabat dengan pengawalan dua sepeda motor Patwal di depan berikut satu mobil Patwal lagi dan di belakang ada satu lagi mobil Patwal. Saya bilang sama sopir saya: “Itu rombongan menteri BUMN sudah lewat.” Tiba-tiba Pak Dahlan menelepon: “Saya sudah di belakang Anda, stop aja di situ,” katanya. Sopir saya berhenti beberapa meter sebelum depan Wisma Bakri, dan dalam waktu hampir bersamaan mobil Toyota Land Cruiser berhenti sekitar 10 meter di belakang mobil saya. Melalui kaca monitor saya melihat pria berbaju biru lengan panjang turun dan berjalan cepat ke arah mobil saya. “Itu Pa
k Dahlan,” kata saya lalu turun menyambut menteri BUMN itu. Pak Dahlan kemudian masuk ke mobil saya, duduk di jok depan. “Ayo jalan,” katanya kepada sopir saya yang masih bingung melihat tingkah Pak Menteri. “Biasanya yang duduk di depan itu ajudan,” kata saya dalam hati. “Kita ke kantor saja ya, nanti Dirut Pertamina mau ketemu. Terus jam tiga saya ada pertemuan dengan menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) ,” kata Pak Dahlan. Saya membayangkan 15 tahunan yang lalu ketika Pak Dahlan ke Makassar untuk suatu rapat di Harian Fajar (grup Jawa Pos). Waktu itu Pak Dahlan meminta saya yang menjemput Beliau ke bandara. “Pakai mobil Anda saja,” kata Pak Dahlan waktu itu. Padahal mobil dinas direksi jauh lebih bagus dibanding mobil dinas saya yang wakil pemimpin redaksi. Begitu pula waktu ke bandara, harus saya juga yang antar menggunakan mobil yang kurang bagus itu. Teringat pula waktu di Bogor 11 tahun lalu, saya mengantar Beliau ke Jakarta dengan mobil Mazda Vantren, padahal pada tahun itu sehari-hari Pak Dahlan naik Mercedes dan Jaguar. Dalam perjalanan Kuningan-Merdeka Barat saya menanyakan kebenaran beberapa pernyataannya yang disiarkan berbagai media, terutama soal meminta direksi BUMN harus berani menolak intervensi partai politik. “Itu benar. Asli. Harus begitu,” katanya. “Ayo masuk. Ambil kanan. “Ayo masuk. Ambil kanan. Masak kamu kalah sama mobil itu,” kata Pak Dahlan kepada sopir saya, yang memberikan kesempatan kepada mobil yang datang dari simpang kanan untuk mendahului. “Dia gugup Pak, ada menteri di sampingnya,” timpal saya. “Ah…sama saja,” kata Pak Dahlan lagi. Tiba di lantai 19 saya ke ruang kerjanya. “Besar bangat Pak. Ini kalau di kantor saya sudah beberapa ruangan,” kata saya mengomentari ruang kerja yang sangat luas dan tampak mewah itu. “Iya, saya belum duduk di kursi itu. Saya di sini saja,” katanya yang lalu duduk di kursi ruang rapat yang menyatu dengan ruang kerja. Maksudnya, selama menjadi menteri Beliau belum pernah duduk di kursi kerja menteri yang mewah itu. Waktu menjadi Dirut PLN dan CEO Jawa Pos Group Pak Dahlan memang tidak menempati ruang kerja Dirut yang juga luas. Mula-mula dia menempati ruang rapat Dirut, kemudian pindah ke satu ruangan yang jauh lebih kecil dari ruang kerja Dirut. Lagi-lagi ruangan itu juga tidak dia gunakan sepenuhnya kecuali meja rapat Dirut sebagai tempat kerjanya sehari-hari. Sambil menunggu datangnya Dirut Pertamina, Pak Dahlan makan siang. Dia mengambil sendiri, menyajikan sendiri dan piring bekas makannya dia bawa sendiri ke ruang sekretariat Dirut. Rupanya ada bekal yang sudah disiapkan Bu Dahlan, istrinya, dari rumah yang disimpannya di belakang kursi kerja Dirut. Selain nasi putih, ada ayam dan ikan yang digulai, kemudian sayur berwarna hijau. Setelah makan siang, kira-kira pukul 14:20, Pak Dahlan menandatangani sejumlah surat, lalu mengantar sendiri surat-surat yang sudah dia tandatangani itu ke ruang sekretariat. “Sekarang sudah setengah tiga, Dirut Pertamina belum datang” Batalin aja, nanti diatur lagi. Saya mau ketemu menteri ESDM jam tiga,” kata Pak Dahlan. Kami lalu turun ke lobi untuk persiapan ke Kementerian ESDM. Begitu melihat menterinya di lobi, beberapa staf dan petugas security mendadak sibuk. “Ayo kita jalan kaki saja,” kata Pak Menteri. “Jangan Pak, sebaiknya Bapak naik mobil,” kata saya sambil menelepon sopir. “Ah..cuman dekat kan. Macet lho,” jawab Pak Menteri lagi sambil terus berjalan ke luar halaman kantor. Pak Dahlan, saya dan seorang staf beliau lalu berjalan ke Kementerian ESDM yang jaraknya sekitar 300 meter dari kantor Kementerian BUMN. Rupanya protokol kedua kementerian sudah berkoordinasi sebelum kami tiba. Begitu di depan pintu lobi, protokol ESDM sudah menyambut. Pak Dahlan pun diantar ke ruang tunggu tamu menteri karena kemungkinan menteri ESDM lagi ada tamu dan menteri BUMN sangat disiplin, datang tepat waktu. Pak Dahlan terpaksa harus menunggu di ruang tunggu bersama-sama tamu lainnya yang bukan menteri. Petugas security Kementerian ESDM hanya bisa geleng kepala. “Gak ada menteri seperti ini,” kata seorang dari mereka. “Pak Dahlan… Pak Dahlan. Sikapnya tidak berubah. Masih seperti dulu-dulu. Asli,” kata saya. Mobil Land Cruiser yang tadi itu ternyata milik pribadi. Dia memang tidak mau menggunakan mobil dinas menteri, apalagi harus dikawal. Pak Dahlan memang memiliki beberapa mobil mewah. Sebelum menjadi Dirut PLN, dia memimpin kurang-lebih 200 perusahaan. Perusahaan-perusahaan BUMN yang dia pimpin sekarang jumlahnya 141 buah. Pejabat-pejabat Kementerian BUMN atau para direksi BUMN akan merasakan yang namanya rapat subuh, rapat tengah malam, rapat di bandara, rapat dalam perjalanan, di atas mobil, dll, makan di pinggir jalan, dll. Pak Dahlan adalah figur yang sangat berkarakter. Dan karakter seorang Pak Dahlan sudah pasti akan memberi warna terhadap penampilan BUMN di masa akan datang, baiksecara corporasi maupun profesionalitas pengurus BUMN itu sendiri. Inilah pengalaman saya selama dua jam bersama Pak Dahlan setelah menjadi menteri BUMN. (*) http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=99327#Profil dan catatan Dahlan Iskan bisa dibaca di : http://dahlaniskan.wordpress.com/ Dahlan Iskan Presiden Indonesia 2014? ________________________________ [Deteksi.info] Siapa yang tidak kenal sosok DAHLAN ISKAN, mantan CEO Jawa Pos Group yang kemudian diangkat presiden SBY menjadi Direktur Utama PLN itu kini telah menduduki posisi baru sebagai Menteri BUMN. Pilihan SBY kali ini mendapat apresiasi luas dari berbakai kalangan. Mengangkat DAHLAN ISKAN adalah sebuah keputusan yang tepat. Dahlan Iskan lahir di Magetan, entah tanggal dan tahun berapa, beliau sendiri tidak punya data yang tepat. Waktu itu tanggal lahirnya dicatat di lemari kayu, lalu ketika orang tua beliau mengalami krisis keuangan, lemari kayu itu dijual, maka lenyaplah catatan tanggal lahir Pak Dahlan. Sebelum sukses membesarkan Jawa Pos Group, Dahlan Iskan mengawali karir sebagai seorang reporter. Bahkan hingga kini gaya menulis Dahlan Iskan sangat khas, yaitu gaya menulis bertutur, ketika membaca tulisannya seolah kita sedang mendengarkan beliau bercerita langsung kepada kita. PLN yang tadinya terseok-seok dengan banyak masalah berhasil dibangkitkan lagi oleh Dahlan Iskan. Berbagai masalah tersebut diurai dengan gaya kepemimpinan yang khas. Cara berpakaian Dahlan Iskan juga sangat khas, yaitu memakai kemeja dengan lengan dilinting hingga mendekati siku, memakai celana casual, demikian juga dengan sepatunya, selalu memakai sepatu kets. Nah, banyak kalangan memprediksi Dahlan Iskan akan menjadi Presiden Indonesia pada tahun 2014 nanti. Entah partai mana yang akan mengusungnya, yang jelas Dahlan Iskan punya bekal yang cukup untuk menjadi presiden Indonesia dan mengantarkan Indonesia ke puncak kejayaannya kembali. Dahlan Iskan Presiden Indonesia 2014? Dahlan Iskan satrio piningit? Mari sama-sama kita saksikan kelanjutan kisahnya.. http://deteksi.info/2011/10/dahlan-i…ndonesia-2014/

Ini Alasan PT KAI Naikkan Harga Tiket Lebaran

August 18, 2011 By: whjobs Category: Trending Topic

Jakarta – Tiket angkutan lebaran terutama kereta api (KA) selalu saja naik. Sebenarnya faktor apakah yang membuat harga tiket KA melambung tinggi pada saat lebaran?

Direktur Utama PT Kereta Api (KAI) Ignasius Jonan mengatakan, kenaikan tarif KA kelas bisnis dan ekskutif setidaknya disebabkan oleh 2 faktor. Faktor pertama adalah adanya renovasi besar-besaran pada rangkaian KA.

“Yang kedua masa operasi lebaran. Kira-kira H1-10 dan H2+10, biaya tenaga kerjanya sangat berlipat. Karena ada lembur, ada penjagaan keamanan, dan biaya operasi-operasi lain,” katanya saat ditemui wartawan di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (21/7/2011).

Jonan mengatakan, tidak ada cara lain untuk menutup biaya operasional KA selama lebaran itu selain membebankan kepada konsumen. Namun, ia memberi catatan, kenaikan tarif tersebut tidak diberlakukan untuk KA kelas ekonomi.

“Jadi kalau nggak mau naik, harganya tinggi, disarankan naik kelas ekonomi saja,” ucap Jonan.

Jonan menyebut tiket KA eksekutif untuk lebaran tahun ini bisa mencapai Rp 600 ribu dari harga semula Rp 350 ribu. Namun, tarif lebaran itu berbeda untuk setiap tanggal pemesanan.

Mengenai calo tiket, Jonan memastikan pihaknya terus melakukan sweeping untuk menanggulangi praktek tersebut. Sweeping hanya bisa dilakukan di dalam pagar stasiun. Untuk praktek percaloan di luar stasiun, ia mengaku tidak dapat berbuat apa-apa.

“Yang tidak boleh itu menjual (tiket) di stasiun di luar loket. Kalau dia jualnya di luar pagar stasiun kita sudah nggak bisa apa-apa. Atau jual di pinggir jalan gitu bagaimana kita bisa men-sweepingnya?” jelas Jonan.

(irw/rdf)

http://www.detiknews.com/

tips wisata murah, jkt-bali kurang dari 100rb setiap hari

April 14, 2012 By: gmunews Category: Uncategorized

Akhir tahun, Bali memang menjadi destinasi wisata favorit. Tak heran, harga tiket pesawat pun melonjak tinggi. Untuk Anda yang berdomisili di Jakarta, ada cara murah menuju Bali.

Tentu saja Anda harus mau bersusah-susah sedikit, yaitu melalui jalur darat dengan kereta api. Selain lebih terjangkau, Anda juga dapat menikmati perjalanan dengan melihat pemandangan sekitar dari atas gerbong kereta api.

Untuk menuju Denpasar dengan kereta api, pertama-tama Anda harus menuju Surabaya. Dari Surabaya, Anda menempuh perjalanan ke Banyuwangi. Dari sini Anda akan menuju Pelabuhan Ketapang untuk menyeberangi Selat Bali menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Barulah dari Pelabuhan Gilimanuk, perjalanan dilanjutkan dengan bus menuju Denpasar.

Anda dapat memulai perjalanan dari Stasiun Senen, Jakarta. Ada dua jalur yang bisa Anda ambil, yaitu jalur utara atau jalur selatan. Dua kereta tersebut melewati Stasiun Senen.

Jalur utara ditempuh dengan KA Kertajaya yang berangkat dari Stasiun Tanjung Priok sekitar pukul 15.20 WIB menuju Stasiun Pasarturi, Surabaya. Sementara itu, untuk KA Gaya Baru Malam Selatan melewati jalur selatan dari Stasiun Jakarta Kota menuju Stasiun Surabaya Gubeng. Harga tiket kereta ekonomi kedua jalur ini mulai dari Rp 50.000 per orang.

Untuk jalur selatan berangkat siang hari, sedangkan jalur utara berangkat sore hari. Ingat, lama waktu tempuh Jakarta menuju Surabaya sekitar 16 jam. Pastikan juga Anda mendapatkan tempat duduk mengingat lamanya perjalanan yang akan Anda tempuh.

Jika Anda memilih jalur selatan, maka Anda tidak perlu berpindah stasiun. Ini karena kereta selanjutnya yang akan Anda naiki adalah KA Mutiara Timur jurusan Stasiun Surabaya Gubeng menuju Stasiun Banyuwangi Baru. Kereta ini berangkat pada pukul 09.15 WIB.

Oleh karena itu, jika Anda naik kereta KA Kertajaya, maka Anda perlu pergi ke Stasiun Surabaya Gubeng terlebih dahulu. Tak perlu khawatir, Anda cukup naik angkutan umum berwarna hijau yang bisa Anda temukan di seberang jalan Stasiun Pasar Turi. Tarifnya sektiar Rp 4.000 dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 30 menit.

Jika dengan KA Gaya Baru Malam Selatan, maka Anda harus bermalam di Surabaya. Sebab, kereta ini biasanya tiba pada dini hari. Jadi, ada waktu tunggu beberapa jam sebelum KA Mutiara Timur berangkat.

Dengan naik KA Mutiara Timur, Anda bisa menempuh perjalanan dari Surabaya langsung menuju Denpasar. Harga tiket sekitar Rp 150.000 sudah termasuk bus eksekutif dan ongkos menyeberang dengan kapal.

Bisa juga dengan naik kereta api kelas ekonomi dari Surabaya menuju Banyuwangi, yaitu KA Sri Tanjung dengan tiket sekitar Rp 24.000. Harganya tentu jauh lebih murah, tetapi bersiap lebih repot.

Jika dengan KA Sri Tanjung, maka sesampai di Stasiun Banyuwangi Baru, Anda tinggal jalan kaki menuju Pelabuhan Ketapang. Jaraknya sangat dekat, cukup berjalan kaki selama sekitar 15 menit. Setelah itu, Anda bisa menyeberang dengan kapal feri. Harga tiket kapal feri Rp 6.000 per orang.

Sesampai di Pelabuhan Gilimanuk, ingatlah untuk menyiapkan kartu identitas karena biasanya ada pemeriksaan oleh petugas setempat. Setelah itu, Anda bisa naik bus menuju Terminal Ubung, Denpasar. Ada beragam transportasi di Pelabuhan Gilimanuk, mulai dari bus tanpa AC sampai mobil. Ongkos bus mulai dari Rp 15.000 sampai Rp 25.000.

Jadi, total pengeluaran untuk transportasi dengan kereta api hanya di bawah Rp 200.000. Bahkan jika Anda menggunakan KA Sri Tanjung, total uang yang Anda keluarkan untuk perjalanan Jakarta menuju Denpasar di bawah Rp 100.000.

Cari tahu terlebih dahulu jadwal-jadwal keberangkatan kereta api yang Anda gunakan. Dengan demikian, Anda dapat memperkirakan jam berapa Anda sampai untuk mengejar transportasi berikutnya. Rute lain yang bisa Anda coba adalah Jakarta menuju Banyuwangi melalui Yogyakarta.

Namun, ingatlah bahwa berwisata tidak harus selalu tentang tujuan, tetapi juga proses perjalanan. Oleh karena itu, tak ada salahnya selama perjalanan Anda juga menjelajahi kota-kota yang Anda singgahi. Misalnya, jalan-jalan di Surabaya, Banyuwangi, dan kawasan Jembrana.Kompas.com

Salah Siapa RIM Bangun Pabrik di Malaysia

September 08, 2011 By: whjobs Category: Trending Topic

“Kebijakan disinsentif hanya akan membuka peluang tawar-menawar dengan birokrat.”

Syahid Latif, Nur Farida Ahniar, Harwanto Bimo Pratomo

VIVAnews – Indonesia yang dihuni lebih dari 240 juta jiwa selama ini dianggap sebagai pangsa pasar potensial bagi sejumlah perusahaan raksasa dunia. Namun, aQfaktor itu saja rupanya tidak cukup untuk membuat mereka untuk memilih negeri ini sebagai basis produksi mereka.

Kenyataan tersebut terlihat dari keputusan Research in Motion (RIM), produsen perangkat telepon genggam BlackBerry, yang memilih membangun pabrik di Malaysia. Tak hanya RIM, langkah serupa dilakukan produsen peralatan rumah tangga asal Jerman, Bosch, yang memilih membangun pabrik panel solar di negeri jiran.

Padahal, baik RIM maupun Bosch adalah perusahaan internasional yang menikmati untung besar dari penjualan produk mereka di Indonesia. Jika dibandingkan Malaysia, jelas pasar Indonesia lebih banyak dijejali produk dari dua perusahaan itu.

Tak ayal, langkah kedua perusahaan tersebut membuat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan geram. “Kenapa membangun pabrik di Malaysia?” dia mempertanyakannya di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu 7 September 2011.

Gita mengungkapkan pasar telepon pintar asal Kanada itu di Indonesia sangat besar. Tahun ini saja RIM menargetkan penjualan 4 juta unit dengan harga rata-rata U$300 per unit. Di Malaysia, RIM hanya mampu menjual tak lebih dari 400 ribu unit. “Cuma sepersepuluh Indonesia,” kata Gita.

Ceruk pasar yang sangat besar di Indonesia jelas telah memberikan keuntungan besar bagi perusahaan asal Kanada itu. Menurut catatan VIVAnews, jumlah BlackBerry yang beredar di Tanah Air hinga saat ini mencapai kurang lebih 5,18 juta unit. Jumlah itu sangat mungkin lebih besar karena baru merekam data penjualan di tiga operator telekomunikasi terbesar di Indonesia–Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo.

Secara global, laporan kinerja terbaru RIM  melaporkan jumlah BlackBerry yang beredar di dunia mencapai 52,3 juta unit. Dengan capaian itu, sepanjang tahun fiskal yang berakhir 26 Februari 2011 lalu, pendapatan RIM meningkat 33 persen–dari US$15 miliar atau setara Rp130 triliun, menjadi US$19,9 miliar atau Rp173 triliun.

Gambaran serupa kurang lebih juga terlihat pada Bosch. Perusahaan ini banyak mengeruk untung dari pasar Indonesia. Sama seperti BlackBerry, berbagai produk Bosch lebih banyak malang-melintang di Indonesia ketimbang di Malaysia.

Pemerintah, masih kata Gita, telah langsung mengambil sikap terhadap sejumlah perusahaan asing yang selama ini dianggap hanya peduli meraup untung di Indonesia. Salah satu upaya yang tengah dikaji pemerintah adalah memberikan disinsentif kepada mereka. “Menteri Perindustrian sudah mengambil sikap,” katanya.

Pemerintah sedang mendata produk-produk yang dikonsumsi rakyat Indonesia dengan skala besar, namun tidak diproduksi di Indonesia. “Tidak ada alasan mereka tidak produksi di Indonesia,” Gita menegaskan.

Dalam kasus RIM, Menteri Perindustrian MS Hidayat bahkan langsung mengusulkan agar produk BlackBerry dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tambahan atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Hidayat menegaskan, penerapan opsi kebijakan disintensif dan insentif perlu ketat diberlakukan agar lebih banyak perusahaan asing—yang produknya menyasar pasar Indonesia–menanamkan modal di Indonesia.

Data investasi

Data BKPM menunjukkan realisasi investasi dari dalam dan luar negeri sepanjang semester I-2011 mencapai Rp115,6 triliun. Angka ini terdiri dari investasi luar negeri (penanaman modal asing-PMA) yang naik 16,2 persen menjadi Rp82,6 triliun, dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang melonjak 50,7 persen menjadi Rp33 triliun.

Selama ini PMA lebih banyak terkonsentrasi di sektor pertambangan sebesar US$2,5 miliar; transportasi, gudang dan telekomunikasi US$1 miliar; industri kimia dasar US$0,9 miliar; industri logam dasar, barang, logam dan elektronik US$0,8 miliar; serta tanaman pangan dan perkebunan US$ 0,7 miliar.

BKPM, dalam situsnya, menilai dengan jumlah 240 juta penduduk, Indonesia menawarkan pasar domestik yang luas, dengan lebih dari 50 persen penduduknya tinggal di daerah perkotaan dan telah mengadopsi gaya hidup modern.

Pasar Indonesia dilihat semakin potensial karena lapisan masyarakat kelas menengah yang sejahtera kian bertambah. Kelompok ini dianggap merupakan penopang pertumbuhan ekonomi, di mana lebih dari 50 persen produk domestik bruto Indonesia berasal dari konsumsi masyarakat.

Lebih cerdas

Pendapat berbeda disuarakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa. Bos para menteri bidang ekonomi ini mengatakan pemerintah, sesuai ketentuan dalam Economic Asean Integrity, tidak dimungkinkan untuk menerapkan berbagai kebijakan yang menghambat proses perdagangan.

Hatta menyatakan pemerintah telah memiliki banyak strategi untuk mengatasi permasalahan ini. “Kita tidak bisa sembarangan menetapkan tariff barrier tetapi kita punya cara-cara lain yang lebih cerdas,” tuturnya.

Sayang, Hatta menambahkan, kepastian apa “cara-cara yang lebih cerdas” itu baru bisa diumumkan setelah keluar hasil evaluasi atas produk konsumsi buatan perusahaan asing yang paling banyak beredar di Indonesia.

Hatta menegaskan, evaluasi dilakukan semata karena pemerintah tidak menginginkan Indonesia hanya menjadi pasar negara lain. “Kita menginginkan Indonesia menjadi pasar utama bagi produk dalam negeri. Walaupun kita tidak menentang pasar terbuka, tetapi kepentingan nasional perlu kita jaga,” kata Hatta.

Menanggapi kondisi tersebut, pengamat ekonomi dari Universitas Gajah Mada Revrisond Baswir menilai pemerintah sebaiknya menempuh cara-cara positif dalam merespons keenngganan investor menanamkan modal di Indonesia.

Penerapan kebijakan disinsentif, ia melanjutkan, justru akan membuat investor asing memiliki persepsi negatif terhadap Indonesia.

“Sebaiknya pemerintah justru menerbitkan kebijakan insentif bagi perusahaan yang mendirikan pabrik di Indonesia. Dengan cara itu, secara sendirinya disinsentif akan dikenakan pada investor yang tidak membangun pabrik di Indonesia,” kata dia.

Revrisond menilai, keengganan perusahaan seperti RIM, Bosch, dan mungkin perusahaan asing lain untuk membuka pabrik di Indonesia tidak lain dikarenakan berbagai persoalan, antara lain: tidak memadainya infrastruktur, khususnya sumber daya manusia, yang mampu mendukung operasi perusahaan-perusahaan asing di atas. Selain itu, Indonesia harus membenahi sistem birokrasnya, yang terkenal sangat korup.

“Mereka memilih Malaysia karena dari segi infrastruktur fisik dan SDM sudah jauh lebih baik dari Indonesia,” kata Revrisond. “Kebijakan disinsentif hanya akan membuka peluang tawar-menawar dengan birokrat, karena kebijakan ini memberi mereka kekuasaan yang lebih kepada mereka.” (kd)

• VIVAnews

IKLAN 336x280